Friday, 23 September 2016

Cinta Lama Bersemi Kembali



Hasil gambar untuk cinta lama bersemi kembali
 
          Hari yang baru pun datang kembali. Hari ini merupakan hari pertama aku duduk dikelas XI. Aku duduk didekat jendela. Tak ada yang spesial untukku. Suasana kelas yang ramai mengusikku. Aku tidak terlalu suka bergaul. Aku mengganggap mereka semua saingan. 
          Bel sekolah pun berbunyi semua anak yang tadinya ramai berkumpul kini menjadi sepi. Seorang guru masuk dan memperkenalkan diri. "Perkenalkan nama ibu Rina guru matematika sekaligus walikelas kalian." ucap guru tersebut ramah. 
          Tok.. tok.. suara pintu terdengar tak lama bu Rina memperkenalkan diri. Seorang siswa masuk sambil tersenyum. Semua anak cewek dikelas tersenyum senang melihatnya. "Maaf bu saya terlambat." ujar cowok itu sopan. Aku terdiam sejenak melihatnya.
          "Lain kali jangan sampai telat lagi ya. Kamu bisa duduk dibangku kosong disana." ujar bu Rina menunjuk bangku disebelahku yang kosong. 
          Cowok itu berjalan dan duduk disebelahku. "Lama gak ketemu mecin." ujarnya tersenyum. 
          "Iya." ujarku memaksa tersenyum. Seperti itu pertemuan pertama kami. Tak ada sepatah kata pun yang keluar kembali. Setelah hampir 2 tahun itulah pertama kalinya kami saling menyapa.
          Hari ini kami belum mulai belajar. Bu Rina hanya berkenalan dan membagi pengurus kelas. Setelah pelajaran matematika masuk guru bahasa indonesia. Sama seperti sebelumnya beliau hanya memperkenalkan diri saja. Bel tanda istirahat pun berbunyi. 
          "Akhirnya." ujar Radit cowok yang duduk disebelahku.
          "Dit, lo kemana aja bisa telat gitu." ujar Dani menghampirinya. Ia hanya nyengir. 
          "Gue kesiangan abis begadang main COC." akunya jujur. "kantin yuk laper." ujarnya lagi mengajak Dani ke kantin.
          Aku beranjak dari tempat dudukku. Perutku sudah mulai lapar. Aku berjalan menuju kantin. Suasana kantin saat istirahat sangat ramai. Aku berjalan menuju oulet yang menjual mie ayam. "Mang mie ayam satu." ujarku memesan makanan.
          "Masih suka mie ayam ternyata." ujar seseorang dibelakangku. "Mang mie ayam satu." ujarnya lagi.
          "Lo." ujarku melihat Radit berdiri disana. "Tumben ngajak ngobrol." ujarku asal.
          "Ya kan kita temen sebangku sekarang." ujarnya asal.
          Tak lama mie ayam yang kami pesan sudah siap. Radit mengambil 2 mangkok mie ayam. Aku menatapnya dengan bingung. "Jangan lupa bayarin gue juga." ujarnya nyengir lalu kabur membawa mangkok tersebut.
          "Dasar." ujarku pelan. Aku membayar dua mangkok mie ayam dan mengikutinya. Aku melihat Dani tengah duduk bersama seorang cewek. Cewek yang tak asing untukku. Dia adalah Gina teman sekelas kami juga.
          "Gue beli minum dulu. Jangan makan mie ayam gue." ujar Radit memberi peringatan kepada mereka.
          "Pelit." ujar Gina. Dani pun hanya tertawa. Aku duduk dengan cangung didepan mereka.
          "Lo udah kenal ya sebelumnya sama Radit Sa?" ujar Dani.
          "Iya temen SMP." ujarku singkat.
          "Temen apa temen?" ujar Gina menggodaku.
            "Temen." ujarku singkat kembali.
          Tak lama Radit pun kembali membawa 2 botol air mineral. "Nih." ujarnya memberiku sebotol.
          "Gue gak dibeliin?" ujar Gina.
          "Beli sendiri sana." ujar Radit sambil meminum air tersebut.
          "Pelit." keluh Gina. "Eh tapi bener nih cuma temen?" ujar Gina kembali.
          "Temen apanya?" ujar Radit bingung.
          "Lo sama Sasa." ujar Dani.
          "oh si mecin, dia mantan gue di SMP." ujar Radit cuek. Aku tersedak mendengar ucapannya. Dani dan Gina pun tak kalah kaget.
          "Gak usah pada kaget gitu kali, lo juga cin tinggal bilang mantan aja susah banget. Apa lo masih ada rasa sama gue?" ujar Radit menggodaku.
          "Ih PD banget deh lo garem." ujarku sebal melihat tingkahnya. Radit tak pernah berubah sedikit pun. Setelah sekian lama akhirnya aku dapat melihat Radit yang dulu kembali.
          "Oh jadi ceritanya ada yang cintanya belum kelar." ujar Gina tersenyum.
          "Berarti bakal ada tanda-tanda balik lagi dong." ujar Dani iseng.
          "Lo berdua jangan mikir aneh-aneh deh." ujarku sebal.
          "Hmm, kalo mecin nembak gue mungkin gue bakal pikirin." ujar Radit dengan nada sok serius.
          "Jangan ngarep ya." ujarku sebal. Radit pun tertawa.
          "Gue bertaruh lo berdua bakal balikan, kalo lo berdua gak balikan gue bakal traktir kalian makan." ujar Gina yakin.
          "Hmmm, lumayan juga. Berarti lo traktir gue makan kan gue gak balikan sekarang." ujar Radit asal.
          "Ye itu mah mau lo, tapi nanti kalo lo balikan gimana?" ujar Gina menggoda.
          Aku menatapnya dengan sebal. Mereka semua tertawa melihatku. Aku hanya memasang wajah sebal. "Ya tinggal balikan, iya gak sayang?" ujar Radit dengan manja. Dani dan Gina tertawa melihat tingkah Radit. Aku memandangnya dengan melotot. "Gue bercanda ko." ujar Radit tersenyum.
          "Oh ya btw katanya bulan depan tim basket kita tanding ya lawan sekolah Nusantara?" ujar Gina memulai pembicaraan kembali.
          "Iya, lo nonton ya." ujar Dani nyengir.
          "Pasti dong, lo juga nonton kan Sa?" ujar Gina.
          "May be." ujarku datar.
          "Dia gak bakal dateng." ujar Radit datar. Aku hanya diam. Radit yang kukenal setelah kejadian itu masih ada. Radit masih marah kepadaku. Aku hanya diam.
          "Kalo gue yang ngajak pasti dia dateng." ujar Gina nyengir. Aku hanya tersenyum dengan terpaksa. Gina, Radit, dan Dani mulai berbincang. Aku hanya diam dan mendengarkan.
          Bel masuk pun berbunyi, kami berempat kembali ke kelas. Sepanjang jalan Gina banyak mengajakku berbicara. Aku biasanya akan merasa terganggu tapi entah kenapa aku tidak merasakan itu. Dari belakang Radit tersenyum melihatku.
          Selama pelajaran tak banyak yang kami bicarakan. Aku hanya fokus pada guru yang mengajar didepan. Dan Radit sibuk membuat sketsa. Harus kuakui gambar Radit sangat indah. Ia tampak serius menggambarnya.
          Jam pelajaran pun berakhir. "Selesai." ujarnya tersenyum senang melihat gambar yang ia buat telah selesai. Sebuah pemandangan pantai yang indah.
          "Dit, latihan yuk." ujar Dani mengajak Radit latihan sepulang sekolah.
          "Yuk." ujar Radit merapihkan tasnya. Mereka berdua pun berlalu.
          "Sa pulang bareng yuk." ujar Gina.
          "Emang rumah lo searah sama gue?" ujarku bingung.
          "Iya, rumah lo di Perum kan?" ujar Gina nyengir.
          "Iya, ko lo tau?" ujarku heran.
          "Gue pernah liat lo disana. Rumah gue juga disana. Baru setahun si gue pindah jadi pasti lo gak tau." ujarnya tersenyum.
          "Ohh." ujarku datar.
          "Kapan-kapan lo harus main kerumah gue." ujar Gina dengan senang.
          "Iya." ujarku singkat.
          "Oh iya, gue penasaran lo mantannya Radit kalian berapa lama jadian?" ujarnya mulai penasaran.
          "Hmm, hampir 2 tahun." ujarku singkat.
          "Hah? terus ko putus?" ujar Gina heran.
          "Kalo gak berarti gue masih pacaran sama dia." ujarku asal.
          "Iya si bener." ujar Gina nyengir. "Btw kenapa si Radit manggil lo mecin? Eh tapi lo manggil dia garem?" ujar Gina bingung.
          "Karena nama gue Sasa. Hmm, lagian dia manggil gue mecin duluan." ujarku asal. "Rumah lo blok apa?" ujarku ketika kami sampai didepan gerbang komplek.
          "Rumah gue di Blok A." ujar Gina.
          "Oh, kalo gitu gue duluan ya." ujarku sebelum Gina bertanya yang lain.
          "Eh lo ko buru-buru. Gak mau main dulu?" ujar Gina.
          "Next time ya." ujarku tersenyum lalu secepatnya pergi.
          "Hmm, jadi penasaran." ujar Gina melihatku pergi buru-buru. Gina memperhatikan tingkahku dan ia tersenyum.

***

          Keesokan paginya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Aku melewati lorong sekolah. Dari belakang seorang memanggilku. "Sasaaa." ujar seseorang memanggilku. Aku menoleh dan Gina menghampiriku. Ia berjalan bersama Radit.
          "Lo baru sampe?" ujar Gina tersenyum.
          "Iya." ujarku singkat.
          "Eh btw di bioskop ada film baru loh nonton yuk." ujar Gina.
          "Film?" ujarku bingung.
          "Iya, lo suka nonton kan? nanti kita ajak Radit sama Dani." ujar Gina nyengir. Aku hanya diam.
          "Nanti pulang sekolah ya. Lo jangan langsung balik." ujar Gina. "Dani." ujarnya lagi memanggil Dani yang baru datang.
          "Lo banyak berubah ya." ujar Radit mengacak-acak rambutku dan berjalan mendahuluiku. Deg. Tiba-tiba aku merasa seperti ada getaran listrik ditubuhku. Entah kenapa getaran yang sudah lama tidak aku rasakan. Getaran yang bertahun-tahun aku rasakan bersama Radit. Aku buru-buru menghilangkan rasa aneh itu.

***

          Bel pulang sekolah berbunyi. Kami berempat bersiap untuk pergi. "Gue sama Dani lo sama Radit ya." ujar Gina nyengir.
          "Awas ya besok nebeng lagi." ujar Radit menggoda Gina.
          "Eh jangan dong, lo kan penyelamat gue kalo telat." ujar Gina nyengir.
          "Dasar." ujar Radit tertawa sambil mengacak-acak rambut Gina. Sejenak aku terdiam melihat tingkah mereka. Selama ini aku tak pernah melihat langsung Radit dengan cewek lain walaupun aku sempat mendengar kabar bahwa ia sempat jadian dengan beberapa cewek. Tapi aku tak pernah terganggu dan sekarang melihatnya secara langsung membuatku terusik.
          "Sa yuk jalan." ujar Gina mengajakku. Aku mengikutinya. Aku duduk diboncengan Radit. Diam menghampiri kami berdua.
          "Jangan diem mulu ntar orang-orang nyangka gue nyulik lo lagi." ujar Radit asal.
          "Ye masa udah gede diculik." ujarku cuek.
          "Emang lo udah gede?" ujar Radit menatapku dengan serius. Aku pun hanya menunduk tak berani menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku dari dia. Radit tertawa.
          "Lo emang udah gede tapi lo masih kaya anak kecil." ujar Radit tersenyum dan pergi menghampiri Dani dan Gina. Aku menghampirinya dari belakang. Selama perjalanan tak banyak yang kuucapkan. Aku hanya mengikuti mereka. Entah kenapa aku menikmatinya. Apa karena selama ini aku selalu sendiri? Apa aku mulai merasa kesepian?
          "oh si mecin, dia mantan gue di SMP." ujar Radit cuek. Aku tersedak mendengar ucapannya. Dani dan Gina pun tak kalah kaget.
          "Gak usah pada kaget gitu kali, lo juga cin tinggal bilang mantan aja susah banget. Apa lo masih ada rasa sama gue?" ujar Radit menggodaku.
          "Ih PD banget deh lo garem." ujarku sebal melihat tingkahnya. Radit tak pernah berubah sedikit pun. Setelah sekian lama akhirnya aku dapat melihat Radit yang dulu kembali.
          "Oh jadi ceritanya ada yang cintanya belum kelar." ujar Gina tersenyum.
          "Berarti bakal ada tanda-tanda balik lagi dong." ujar Dani iseng.
          "Lo berdua jangan mikir aneh-aneh deh." ujarku sebal.
          "Hmm, kalo mecin nembak gue mungkin gue bakal pikirin." ujar Radit dengan nada sok serius.
          "Jangan ngarep ya." ujarku sebal. Radit pun tertawa.
          "Gue bertaruh lo berdua bakal balikan, kalo lo berdua gak balikan gue bakal traktir kalian makan." ujar Gina yakin.
          "Hmmm, lumayan juga. Berarti lo traktir gue makan kan gue gak balikan sekarang." ujar Radit asal.
          "Ye itu mah mau lo, tapi nanti kalo lo balikan gimana?" ujar Gina menggoda.
          Aku menatapnya dengan sebal. Mereka semua tertawa melihatku. Aku hanya memasang wajah sebal. "Ya tinggal balikan, iya gak sayang?" ujar Radit dengan manja. Dani dan Gina tertawa melihat tingkah Radit. Aku memandangnya dengan melotot. "Gue bercanda ko." ujar Radit tersenyum.
          "Oh ya btw katanya bulan depan tim basket kita tanding ya lawan sekolah Nusantara?" ujar Gina memulai pembicaraan kembali.
          "Iya, lo nonton ya." ujar Dani nyengir.
          "Pasti dong, lo juga nonton kan Sa?" ujar Gina.
          "May be." ujarku datar.
          "Dia gak bakal dateng." ujar Radit datar. Aku hanya diam. Radit yang kukenal setelah kejadian itu masih ada. Radit masih marah kepadaku. Aku hanya diam.
          "Kalo gue yang ngajak pasti dia dateng." ujar Gina nyengir. Aku hanya tersenyum dengan terpaksa. Gina, Radit, dan Dani mulai berbincang. Aku hanya diam dan mendengarkan.
          Bel masuk pun berbunyi, kami berempat kembali ke kelas. Sepanjang jalan Gina banyak mengajakku berbicara. Aku biasanya akan merasa terganggu tapi entah kenapa aku tidak merasakan itu. Dari belakang Radit tersenyum melihatku.
          Selama pelajaran tak banyak yang kami bicarakan. Aku hanya fokus pada guru yang mengajar didepan. Dan Radit sibuk membuat sketsa. Harus kuakui gambar Radit sangat indah. Ia tampak serius menggambarnya.
          Jam pelajaran pun berakhir. "Selesai." ujarnya tersenyum senang melihat gambar yang ia buat telah selesai. Sebuah pemandangan pantai yang indah.
          "Dit, latihan yuk." ujar Dani mengajak Radit latihan sepulang sekolah.
          "Yuk." ujar Radit merapihkan tasnya. Mereka berdua pun berlalu.
          "Sa pulang bareng yuk." ujar Gina.
          "Emang rumah lo searah sama gue?" ujarku bingung.
          "Iya, rumah lo di Perum kan?" ujar Gina nyengir.
          "Iya, ko lo tau?" ujarku heran.
          "Gue pernah liat lo disana. Rumah gue juga disana. Baru setahun si gue pindah jadi pasti lo gak tau." ujarnya tersenyum.
          "Ohh." ujarku datar.
          "Kapan-kapan lo harus main kerumah gue." ujar Gina dengan senang.
          "Iya." ujarku singkat.
          "Oh iya, gue penasaran lo mantannya Radit kalian berapa lama jadian?" ujarnya mulai penasaran.
          "Hmm, hampir 2 tahun." ujarku singkat.
          "Hah? terus ko putus?" ujar Gina heran.
          "Kalo gak berarti gue masih pacaran sama dia." ujarku asal.
          "Iya si bener." ujar Gina nyengir. "Btw kenapa si Radit manggil lo mecin? Eh tapi lo manggil dia garem?" ujar Gina bingung.
          "Karena nama gue Sasa. Hmm, lagian dia manggil gue mecin duluan." ujarku asal. "Rumah lo blok apa?" ujarku ketika kami sampai didepan gerbang komplek.
          "Rumah gue di Blok A." ujar Gina.
          "Oh, kalo gitu gue duluan ya." ujarku sebelum Gina bertanya yang lain.
          "Eh lo ko buru-buru. Gak mau main dulu?" ujar Gina.
          "Next time ya." ujarku tersenyum lalu secepatnya pergi.
          "Hmm, jadi penasaran." ujar Gina melihatku pergi buru-buru. Gina memperhatikan tingkahku dan ia tersenyum.

***

          Keesokan paginya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Aku melewati lorong sekolah. Dari belakang seorang memanggilku. "Sasaaa." ujar seseorang memanggilku. Aku menoleh dan Gina menghampiriku. Ia berjalan bersama Radit.
          "Lo baru sampe?" ujar Gina tersenyum.
          "Iya." ujarku singkat.
          "Eh btw di bioskop ada film baru loh nonton yuk." ujar Gina.
          "Film?" ujarku bingung.
          "Iya, lo suka nonton kan? nanti kita ajak Radit sama Dani." ujar Gina nyengir. Aku hanya diam.
          "Nanti pulang sekolah ya. Lo jangan langsung balik." ujar Gina. "Dani." ujarnya lagi memanggil Dani yang baru datang.
          "Lo banyak berubah ya." ujar Radit mengacak-acak rambutku dan berjalan mendahuluiku. Deg. Tiba-tiba aku merasa seperti ada getaran listrik ditubuhku. Entah kenapa getaran yang sudah lama tidak aku rasakan. Getaran yang bertahun-tahun aku rasakan bersama Radit. Aku buru-buru menghilangkan rasa aneh itu.

***

          Bel pulang sekolah berbunyi. Kami berempat bersiap untuk pergi. "Gue sama Dani lo sama Radit ya." ujar Gina nyengir.
          "Awas ya besok nebeng lagi." ujar Radit menggoda Gina.
          "Eh jangan dong, lo kan penyelamat gue kalo telat." ujar Gina nyengir.
          "Dasar." ujar Radit tertawa sambil mengacak-acak rambut Gina. Sejenak aku terdiam melihat tingkah mereka. Selama ini aku tak pernah melihat langsung Radit dengan cewek lain walaupun aku sempat mendengar kabar bahwa ia sempat jadian dengan beberapa cewek. Tapi aku tak pernah terganggu dan sekarang melihatnya secara langsung membuatku terusik.
          "Sa yuk jalan." ujar Gina mengajakku. Aku mengikutinya. Aku duduk diboncengan Radit. Diam menghampiri kami berdua.
          "Jangan diem mulu ntar orang-orang nyangka gue nyulik lo lagi." ujar Radit asal.
          "Ye masa udah gede diculik." ujarku cuek.
          "Emang lo udah gede?" ujar Radit menatapku dengan serius. Aku pun hanya menunduk tak berani menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku dari dia. Radit tertawa.
          "Lo emang udah gede tapi lo masih kaya anak kecil." ujar Radit tersenyum dan pergi menghampiri Dani dan Gina. Aku menghampirinya dari belakang. Selama perjalanan tak banyak yang kuucapkan. Aku hanya mengikuti mereka. Entah kenapa aku menikmatinya. Apa karena selama ini aku selalu sendiri? Apa aku mulai merasa kesepian?
          Sudah hampir sebulan aku bersama mereka. Entah kami sudah bisa dibilang teman atau hanya sekedar orang yang sering bersama. Masih tak banyak yang kubicarakan dengan mereka. Kadang mereka membuatku terganggu tapi kadang saat aku sendiri aku merindukan canda mereka. Apa mungkin aku sudah mulai terbiasa untuk berteman kembali? Pertanyaan itu masih belum aku temukan jawabannya.
          "Dit, Sasa itu orangnya kaya gimana?" ujar Gina siang itu saat mereka sedang berada dirumah Gina.
          "Hmmm, dia pendiem tapi kalo udah kenal nyebelin. Dia selalu menutup dirinya buat orang lain. Dia pinter tapi juga polos. Egonya tinggi dia nganggep semua orang saingan." ujar Radit mengingat sifat Sasa.
          "Hmm, lo kayanya tau banget. Oh iya tumben lo bisa pacaran lama. Gue denger hampir dua tahun." ujar Gina.
          "Ya gue tau Sasa dari awal SMP cuma kita baru jadian pas kelas 2 dan kita sekelas pas kelas 3. Ya kalo gue nyaman kenapa gak? Eh tapi ko lo tau gue hampir 2 tahun?" ujar Radit bingung.
          "Iya, gue nanya sama Sasa waktu itu." ujar Gina.
          "Tumben dia jawab." ujar Radit berpikir. "Tapi kalo yang nanya kaya lo bisa jadi si." ujar Radit lagi sambil melihat kearah Gina yang orangnya sangat kepo.
          "Gue kan orangnya baik hati dan tidak sombong. Pasti Sasa mau temenan sama gue." ujar Gina. Radit hanya tertawa melihat tingkah Gina yang kadang diluar pikirannya.
          "Gin, ada temen kamu nyariin." ujar mamah memanggilku dari bawah.
          "Siapa ya? gue ke bawah dulu." ujar Gina turun ke bawah. Gina turun menghampiri mamahnya yang berada di bawah. Ia berjalan menuju ruang tamu.
          "Sasa?" ujar Gina sedikit terkejut. Ia tersenyum senang menghampiri Sasa.
          "Siapa Gin?" ujar Radit yang baru turun. Radit sedikit terkejut melihat Sasa datang. Aku terdiam melihat mereka. 
          "Gue mau balikin ini." ujarku mengembalikan buku yang aku pinjam. 
          "Ohh, udah lo baca? seru kan?" ujar Gina senang.
          "Iya, Gue balik dulu ya kalo gitu." ujarku buru-buru pergi.
          "Ko buru-buru? duduk dulu yuk." ujar Gina tersenyum.
          "Gue kayanya langsung pulang deh soalnya tadi gue bilangnya cuma mau balikin buku doang." ujarku pamit lalu bergegas pergi. Aku berjalan dengan salah tingkah meninggalkan rumah Gina. Radit terdiam memperhatikanku pergi, dia hanya tersenyum. "Dasar." ujarnya pelan.
          "Kamu ko udah pulang?" ujar mamah yang sedang beristirahat sepulang mengajar. Mamah bingung melihatku pulang cepat.
          "Iya, Ginanya lagi ada tamu." ujarku singkat lalu masuk kamar. Aku membaringkan tubuhku diranjang. Entah apa yang kurasakan saat ini. Aku tak mengerti dengan diriku. Apa aku masih suka dengan Radit? Apa aku cemburu? Aku membaringkan tubuhku diranjang dan menutup wajahku. Banyak yang aku pikirkan.

***

          Keesokan harinya tak banyak yang terjadi. Aku hanya diam. "Sa kantin yuk." ujar Gina mengajakku.
          "Gue mau dikelas aja." ujarku singkat.
          "Lo sakit? apa mau gue anterin ke UKS?" ujar Gina khawatir.
          "Gak ko, gue cuma mau sendiri aja." ujarku.
          "Yaudah, gue ke kantin ya, kalo mau nitip sms." ujar Gina tersenyum lalu pergi meninggalkanku sendiri. Entah kenapa aku jadi marah dengan Gina. Apa karena Radit? 
          Aku membaringkan kepalaku dimeja. Aku melihat ke luar jendela. Tiba-tiba aku merasa seseorang disebelahku. Kuangkat kepalaku dan kulihat Radit duduk disana. Ia duduk dan hanya diam.
          Aku kembali menidurkan kepalaku di meja. Diam menyelimuti kami berdua. Tak lama aku merasa Radit beranjak pergi kembali. Aku merubah posisi kembali terduduk diam. "Gue kenapa si?" ujarku pelan.
          Bel masuk pun berbunyi. Kelas kembali ramai. Aku melihat Gina dan Radit masuk bersama. Mereka masih tampak asik berbincang. Kuhela nafasku sejenak dan mulai mengalihkan pandanganku. Pikiranku hari ini sangat kacau.

***

          Sore itu sangat panas. Waktu padahal menunjukkan pukul 3 sore. Aku membaringkan tubuhku di ranjang. Hari ini aku malas untuk beranjak kemana-mana. Bel rumahku berbunyi. Ka Tyo berjalan membuka pintu.
          "Cari siapa ya?" ujarnya ramah.
          "Sasanya ada?" ujar Gina salting.
          "Oh temennya Sasa. Masuk." ujar ka Tyo tersenyum. Ia mengantar Gina kekamarku. Gina masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari ka Tyo.
          "De, ada temen kamu nih." ujar ka Tyo masuk ke kamarku. Aku memandangnya bingung.
          "Ka jangan becanda deh, sejak kapan temen aku ada yang main..." belum sempat aku melanjutkan ucapanku Gina sudah muncul dari balik pintu. Ia tersenyum melihatku.
          "Kamu mulai amnesia ya? bukannya dulu sering. Apalagi siapa tuh namanya kaka lupa. Ko dia gak pernah kesini lagi? udah putus? padahal kaka sering liat dia disekitar komplek." ujar ka Tyo masih berpikir. Aku beranjak dengan cepat. Kuusir ka Tyo dari kamarku.
          "Iya ka, ngomongin dianya nanti aja ya. Nanti kalo kaka kangen aku salamin. okay." ujarku menyeret ka Tyo keluar dan menutup pintu kamar. Hampir saja. Gina hanya tersenyum melihat tingkahku.
          "Sorry ya dia suka rese." ujarku menghampiri Gina.
          "Iya, kaka lo lucu." ujar Gina nyengir.
          "Lucu?" ujarku bingung. Gina mungkin sudah kena peletnya ka Tyo. Hampir semua cewek yang melihat ka Tyo pasti jatuh hati. Aku sendiri merasa heran. Memang kalo diperhatikan ka Tyo manis. Dia selalu baik kepada semua cewek, but sifat isengnya gak ketulungan.
          "Iya." ujar Gina nyengir.
          "Oh ya btw kenapa Gin?" ujarku penasaran melihat kedatangan Gina yang tiba-tiba.
          "Gpp mau main aja." ujar Gina tersenyum.
          "Radit gak ke rumah mang?" ujarku pelan.
          "Gak, dia ada latihan basket." ujar Gina. "Lagian ngapain Radit sering-sering ke rumah gue kalo gak disuruh nyokapnya nganterin sesuatu." ujar Gina lagi.
          "Nyokapnya?" ujarku tak mengerti.
          "Oh iya, gue belum cerita ya, Radit sepupu gue." ujar Gina tersenyum. "Kadang tante Maryam suka nitipin makanan kalo si Radit mau kerumah." ujar Gina lagi membaringkan tubuhnya diranjang.
          "Lo deket banget ya sama Radit?" ujarku ikut berbaring disampingnya.
          "Lumayan, ya namanya juga saudara. Apalagi semenjak gue pindah kesini. Radit sering ngajak gue jalan-jalan. Ya gak sering juga si. Kadang kalo lagi jalan sama pacarnya gue suka gak diajak juga. Eh gue ngomong kepanjangan ya?" ujar Gina menyadari ucapannya.
          "Gpp ko." ujarku tersenyum.
          "Gue sempet kaget si Radit bisa pacaran lama. Biasanya kan sebentar." ujar Gina. "Btw lo kenapa putus si?" ujar Gina menatap kearahku.
          "Tanya Radit aja." ujarku singkat. "Pasti dia jawab ko." ujarku lagi.
          "Radit? jawab? lo kaya gak tau dia aja. Dia kan jarang terbuka orangnya." ujar Gina sebal.
          "Hmm, kadang gak semuanya harus diceritain kan?" ujarku tersenyum.
          "Wahh, lo kayanya kenal banget ya sama dia. Gue cuma penasaran aja si lo berdua kan udah pacaran lama pasti udah sama-sama ngerti." ujar Gina.
          "Gak selalu si, mungkin karena ego gue yang tinggi, jadi kita sering berantem. Dan lama-lama gue nganggep dia saingan daripada pacar." ujarku tersenyum.
          "Udah gitu doang?" ujar Gina heran.
          "Gak juga si, waktu itu kita lagi sama-sama cape, setelah ujian kita sempet berantem, salah gue si, dan saat hasil ujian keluar ternyata nilai dia lebih gede dari gue. Saat itu gue marah terus kita berantem." ujarku mengingat kejadian dulu.
          "Terus lo mutusin dia?" ujar Gina pelan.
          "Iya, mulai sejak itu Radit gak pernah ngajak gue ngobrol dan gue juga cuek aja." ujarku.
          "Lo gak nyoba minta maaf?" ujar Gina.
          "Buat apa? lagian Raditnya juga yang kaya anak kecil gitu aja marah." ujarku sebal.
          "Aduh lo berdua tuh ya kelakuan sama aja." ujar Gina bangkit dari tidurnya. "Awalnya gue kira Radit yang lebay, ternyata lo juga sama aja." ujar Gina asal.
          "Maksudnya?" ujarku bingung.
          "Lo masih suka kan sama dia." ujar Gina.
          "Gak." bantahku dengan cepat.
          "Kalo gak, kenapa kemaren lo pulang cepet? terus kenapa lo ngehindarin gue disekolah?" ujar Gina serius. Aku hanya diam. Gina tersenyum melihatku.
          "Kalo lo emang suka sama Radit lo harusnya nurunin ego lo. Sekarang gini lo udah 2 tahun dan putus karna nilai dia lebih gede. Bukannya bagus ya? berarti cwo lo pinter. Gak masalah ko kalo dia lebih pinter dari lo. Apa lo mau punya cwo yang lebih bodoh dari lo? Gak kan?" ujar Gina.
          "Ok yang kemaren emang gue salah. Tapi bukan berarti gue masih suka sama Radit kan?" ujarku sebal. Gina tertawa melihatku. 
          "Iya terserah lo si, but lo tetep wajib minta maaf ke dia. Apa salahnya si minta maaf atas kesalahan lo? Toh gue rasa Radit juga gak bakal marah lagi kalo lo minta maaf." ujar Gina tersenyum. Aku menghela nafas sejenak berpikir sebentar. Semuanya memang salahku seperti yang diucapkan Gina.
          "Yaudah gue balik ya. Gue cuma mau mastiin doang lo cemburu sama gue apa gak. Eh ternyata bener." ujar Gina terkikih. Aku melongo melihat tingkat Gina yang berubah. Sebelum aku sempat angkat bicara Gina sudah mulai mengoceh.
          "Eits jangan marah. Gue sama Radit sepupu okay. Jadi kalo kita deket ya sebagai kaka adik aja. Dan lo harus tetep minta maaf. Gak ada tapi-tapian. Oh iya, btw ka Tyo udah punya pacar belum?" ujar Gina nyengir.
          "Gina." ujarku sebal.
          "Just kidding." ujarnya tertawa. Aku hanya tertawa sebal melihatnya. Kami berdua berjalan menuruni tangga disana ka Tyo tengah menonton TV.
          "Udah mau pulang?" ujar ka Tyo tersenyum.
          "Iya ka." ujar Gina malu-malu.
          "Ka kata Gina kaka udah punya ..." belum sempat aku melanjutkan ucapanku Gina sudah menutup mulutku. Ia hanya nyengir.
          "Balik dulu ya ka." ujarnya buru-buru menarikku keluar. Aku melepaskan tangannya saat kami berada diluar.
          "Lo iseng banget si." ujar Gina sebal. Aku tertawa melihat tingkah Gina.
          "Makanya jangan ngeledekkin gue mulu sama Radit." ujarku asal.
          "Wuu... Nanti gue bilangin Radit. Udah ah gue mau pulang dulu. Takut dicariin sama mamih tercinta." ujar Gina nyengir. Aku tertawa melihat tingkahnya. Gina menghidupkan motornya dan bersiap untuk pergi.
          "Oh iya, salam ya buat ka Tyo." ujarnya dengan genit sambil mengedipkan sebelah matanya.
          "Dasar." ujarku tertawa. "Hati-hati dijalan." ujarku tersenyum.
          "Dahhh." ujar Gina lalu pergi meninggalkan rumahku. Aku kembali masuk kerumah dan ka Tyo masih sibuk dengan TV nya.
          "Nonton apa si ka?" ujarku heran.
          "FTV." ujarnya singkat.
          "Ih melow banget si. Coba kalo cewek-cewek tau yang ada langsung ilfeel sama kaka." ujarku asal.
          "Ye dasar. Oh iya kaka inget si Radit. Waktu itu kaka sempet beberapa kali ketemu sama dia. Sempet nyapa sebentar si." ujar ka Tyo.
          "Ohh." ujarku singkat.
          "Ciye yang udah putus sekarang cuma ohh doang, biasanya nanyain panjang lebar." ujar ka Tyo menggodaku.
          "Stop. Aku mau ke kamar aja daripada dengerin ka Tyo ntar tambah jadi melow." ujarku asal lalu pergi kekamar. Ka Tyo hanya tertawa melihat tingkahku.

***

          Hari ini pertandingan basket melawan SMA Nusantara akan diadakan. Radit dan Dani sudah bersiap dari pagi bersama tim basket yang lain. Aku masih enggan duduk dikursiku. Bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Kulihat Gina sudah buru-buru. "Sa, ayo buruan." ujar Gina menghampiriku.
          "Gue gak ikut deh." ujarku masih dengan malas.
          "Udah buruan jangan banyak alasan." ujar Gina menarik tanganku. Dengan malas kuikuti dia. Kami berjalan menuju lapangan basket. 
          Hari ini hanya pertandingan persahabatan. Anak-anak sudah mulai memenuhi pinggir lapangan untuk menonton. Aku dan Gina pun turut duduk bersama dengan mereka. Kulihat Radit dan Dani tengah melakukan pemanasan. "Radit Dani." ujar Gina mulai berteriak. Dani hanya nyengir melihat kami. Dan Radit sempat terdiam sebentar dan tersenyum. Entah tersenyum kepada Gina atau kepadaku.
          Pertandingan pun dimulai. Aku mulai memperhatikan pertandingan. Aku tidak pernah mau menonton pertandingan Radit. Mungkin hal itu yang membuatnya lelah kepadaku. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Radit terlihat keren mendrible bola. Banyak anak cewek yang berseru menyemangatinya. Aku sekilas memperhatikan tingkah mereka. 
          "Si Quin ngapain dia kesini?" ujar Gina sebal melihat kearah seorang cewek yang cantik. 
          "Lo cemburu kalah cantik sama dia?" ujarku asal.
          "Ih gak ya, itu mantannya Radit. Dan lo tau? dia selingkuh sama temennya Radit sendiri gila kan?" ujar Gina sedikit berbisik kepadaku. Aku diam memperhatikan cewek itu. Aku pernah tanpa sengaja melihat Radit bersama cewek itu.
          "Pokoknya kalo dia deketin Radit lagi awas." ujar Gina sebal. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
          Pertandingan berlangsung sangat seru. Semua pemain bermain dengan serius. Ditengah pertandingan aku melihat Radit terdorong oleh tim lawan. Ia terjatuh sebentar kemudian bangun kembali. Gina melihatnya dengan kesal. Aku terdiam memperhatikannya. Pertandingan hampir selesai. 
          "Gue ke toilet dulu ya. Lo mau nitip minum gak?" ujarku bangkit dari tempat duduk.
          "Boleh. Jangan lama-lama ya sebentar lagi udahan mainnya." ujar Gina.
          Aku berjalan menuju toilet. Setelah selesai aku berjalan menuju kantin. Sempat aku melewati koperasi sekolah. Aku berhenti sejenak dan masuk membeli handsaplas. "Buat apa gue beli ginian." ujarku pelan menuju kantin sekolah. Aku memasukkan handsaplas ke sakuku. Dan membeli dua minuman botol dingin. Saat aku kembali pertandingan sudah selesai. Semua pemain sedang beristirahat. Gina duduk disebelah Radit. Aku menghampirinya perlahan.
          "Lo tau gak tadi ada si Quin?" ujar Gina masih sebal.
          "Ya biarin kan ini sekolahan dia. Masa lo mau larang dia nonton si." ujar Radit tertawa.
          "Awas aja tuh anak macem-macem." ujar Gina mengancam.
          "Gin." ujarku menghampirinya.
          "Lo harusnya nonton endingnya Sa. Untung sekolah kita menang beda tipis banget." ujar Gina semangat.
          "Nih." ujarku memberikan sebotol minuman.
          "Thanks ya, oh iya btw gue kesana  dulu ya." ujar Gina mengedipkan matanya kepadaku. Diam menyelimuti aku dan Radit ketika Gina pergi.
          "Tumben nonton." ujar Radit pelan masih dengan keringat bercucuran.
          "Hmm, ditarik Gina." ujarku pasrah. Diam menyelimuti kami kembali. Aku membuka botol air mineralku dan menarik lengan Radit.
          "Lo mau ngapain?" ujarnya bingung.
          "Udah diem." ujarku sebal. Aku membasuh lukanya dengan air dan mengelapnya dengan tisu. Lalu kuambil handsaplas yang telah kubeli. "Jangan GR." ujarku pelan.
          "I know." ujarnya tersenyum melihat lukanya sudah diobati.
          "Maaf." ujarku pelan.
          "Buat?" ujar Radit tak mengerti.
          "Masalah kemarin. Hmm, gara-gara nilai lo lebih gede gue malah marah." ujarku tanpa menoleh kearahnya.
          "Iya." ujar Radit singkat.
          "Lo masih marah sama gue?" ujarku.
          "Gak ko, lagian juga itu udah lama. Dan kita masih sama-sama belum dewasa." ujar Radit. "But, kenapa saat Gina ngajak lo nonton lo mau dan saat gue mohon-mohon lo gak pernah mau?" ujar Radit sebal.
          "Abisnya lo kalo abis main basket pasti luka gini." ujarku sebal. Radit tertawa melihatku. Aku melihat kearahnya dengan sebal.
          "Ya namanya juga cowok." ujar Radit tersenyum. "But thanks udah nonton dan ini." ujar Radit menunjukkan lukanya yang sudah diobati. Aku mengangguk dan tersenyum.
          "Dit ganti baju yuk." ujar Dani menghampiri kami.
          "Gue ganti baju dulu ya." ujar Radit tersenyum. Lalu berjalan menuju toilet bersama Dani.
          "So? udah baikan?" ujar Gina menggodaku.
          "Siapa yang berantem emang?" ujarku asal.
          "Nah sekarang berarti lo harus traktir gue." ujar Gina senang.
          "Itu." ujarku menunjuk minum yang ia pegang.
          "Curang." ujarnya sebal lalu tertawa.
          Tak lama aku melihat Dani dan Radit berjalan menghampiri kami. "Gue balik duluan ya." ujar Dani pamit duluan dan berlalu. Tinggal kami bertiga disana.
          "Gina." ujar seseorang memanggilnya.
          "Hai, udah selesai ganti bajunya." ujar Gina senang.
          "Yuk balik." ujar cowok itu.
          "Oh iya btw kenalin ini Sasa dan ini Radit eh tapi udah kenal kan ya sama Radit. Ini Yoga pacar gue." ujar Gina nyengir menggandeng cowok itu. Cowok itu pun tersenyum. Aku sempat terdiam tak mengerti. Dari seragamnya Yoga anak SMA Nusantara. Jadi tadi Gina mau nonton pacarnya?
          "Oh ya, gue balik duluan ya. Lo minta anterin Radit aja dia kosong ko." ujar Gina asal. Tak lama ia pun berlalu dengan Yoga.
          "Yuk balik." ujar Radit bangkit dari tempat duduknya.
          "Itu pacar Gina?" ujarku heran. Radit hanya menganggkat bahunya.
          "Gue dikerjain." ujarku sebal. Radit tertawa. 
          "Lagian lo mau aja dikibulin Gina. Hmm, pasti lo udah ceritain semua ke Gina." ujar Radit asal.
          "Gak." ujarku langsung kabur berjalan mendahuluinya. Radit tersenyum kemudian mengejarku. Hari itu kami pulang bersama seperti masa SMP. Entah sudah berapa lama kami tidak pulang bersama seperti ini.

***

          Sudah sebulan sejak kejadian itu berlalu. Kini banyak yang telah berubah dihidupku. Aku tidak lagi menganggap semua orang saingan. Dan sekarang aku memiliki banyak teman. Terkadang memang mereka agak menyebalkan but they are my friends, always beside me no matter what i do. Kalo ditanya hubunganku dengan Radit gimana? ya you know lah ini cerita yang pasti akan ketebak endingnya. But untuk saat ini kami masih berteman. why? karena Radit belum menyatakan cintanya padaku. Ia masih menungguku untuk menembaknya duluan dan aku tidak mau. Sudah sering beberapa kode yang ia sampaikan namun aku hanya berpura-pura tidak mengerti.
          Hari ini adalah malam tahun baru. Aku, Radit, Gina, Yoga, Dani dan Karin merayakannya bersama-sama. Kami pergi ke Villa milik keluarga Gina. Disana keluarga Gina juga turut ikut serta. Karena Gina anak tunggal tentu saja keluarganya senang dengan kehadiran kami. Kami pergi dengan menggunakan mobil Gina. Anak-anak cowok bergantian membawanya. Sesampainya disana suasana dingin puncak menyambut kami. Tenang, damai, dan dingin pastinya. Sesampainya disana kami masuk ke kamar masing-masing ada 4 kamar yang tersedia disana. Dengan rumah yang terdiri dari dua tingkat kami dapat melihat pemandangan puncak yang indah.
          Setelah beristirahat kami bersiap untuk melakukan barbeque alias bakar-bakar. Para anak cwo dan papa Gina menyiapkan tempat untuk bakar-bakaran. Sedangkan kami sibuk membantu mama Gina untuk menyiapkan bahan makanan. Setelah semua siap, kami semua melaksanakan bakar-bakar. Yoga sibuk memainkan gitar dan kami bernyanyi bersama. Aku menghampiri Radit yang tengah membakar jagung sendirian. Aku turut duduk disebelahnya.
          "Lo gak ikut nyanyi?" ujarku melihat api yang membara.
          "Tanggung nih." ujarnya menunjuk jagung terakhir yang ia bakar. Aku mengambil sebuah jagung dan ikut membakarnya.
          "Jangan deket-deket nanti yang ada gosong." ujar Radit masih memperhatikan jagungnya.
          "Iya gue tau ko." ujarku asal. Radit tersenyum melihatku. Sejenak aku terdiam. Tanganku masih memegang jagung yang ada di atas api.
          "Cin." ujar Radit lembut. Aku hanya diam melihatnya. "Jagung lo gosong." ujar Radit tertawa. Aku tersadar dan mengangkat jagung tersebut. Warnanya sudah berubah menjadi hitam. 
          "Yahhh, padahal buat lo, buang aja deh." ujarku asal. Radit menarik tanganku dan mengambil jagungnya.
          "Eits kalo udah niat gak boleh dibuang." ujarnya sambil tersenyum. 
          "Lo jahat." ujarku sebal.
          "Why?" ujar Radit bingung.
          "Lo kenapa si baik banget sama gue? Hmm, apa lo lagi ngerjain gue?" ujarku lagi sebal. Radit tertawa melihat tingkahku.
          "Udah ah gue mau ke anak-anak aja." ujarku sebal. Radit menarik tanganku sehingga aku terduduk kembali.
          "Hmmm, kayanya kalo nunggu lo gak bakal ada kemajuan. Gue anggep ini sebagai pertanda lo nembak gue. Gue sayang sama lo dari dulu dan lo tau itu. Kemaren gue sempet pacaran sama beberapa cewek gue kira dengan begitu gue bisa move but i am wrong. Sasa would do you to be my girlfriend?" ujar Radit dengan tersenyum.
          "Sok romantis deh." ujarku tertawa.
          "Ah lo ngerusak suasana." ujar Radit ngambek.
          "Dit." ujarku lembut.
          "Hmmm." ujarnya singkat.
          "You know me. Maaf udah buat lo sakit dulu. But gue janji gak bakal ngulangin lagi." ujarku tersenyum. Radit tersenyum. "Tapi kalo gue inget ya." ujarku tertawa. 
          "Dasar." ujar Radit tersenyum. Kami saling berpandangan. Semakin lama wajah Radit mendekatiku. Aku pun menutup mata.
          "Hei kalian buruan sini udah mau tengah malem." suara Gina mengagetkan kami berdua.
          "Gina." ujar Radit sebal. Aku hanya tertawa.
          "Yuk kesana. Kelamaan disini yang ada kita yang gosong." ujarku asal. Aku beranjak bangun dan membantu Radit membawa beberapa jagung bakar.
          "Yang tadi belum selesai." bisiknya singkat ditelingaku. Lalu berjalan mendahuluiku.
          "Dasar." ujarku pelan sambil tersenyum. Aku berjalan mengikutinya.
          "Jagung bakar udah siap." ujar Radit meletakkan jagung tersebut diatas meja.
          "Dit ko yang ini gosong? buang aja deh." ujar Gina asal.
          "Eh jangan ini punya gue spesial." ujar Radit mengambil jagung tersebut. Semua orang terdiam mendengar ucapan Radit. "Ini dari mecin pas dia nembak gue." ujarnya asal. Semua mata langsung tertuju kepadaku. Godaan mulai keluar dari mulut mereka. Papa dan Mama Gina tertawa melihat tingkah kami. Malam itu menjadi tahun baru yang menyenangkan.

***