Hari yang
baru pun datang kembali. Hari ini merupakan hari pertama aku duduk dikelas XI.
Aku duduk didekat jendela. Tak ada yang spesial untukku. Suasana kelas yang
ramai mengusikku. Aku tidak terlalu suka bergaul. Aku mengganggap mereka semua
saingan.
Bel sekolah
pun berbunyi semua anak yang tadinya ramai berkumpul kini menjadi sepi. Seorang
guru masuk dan memperkenalkan diri. "Perkenalkan nama ibu Rina guru
matematika sekaligus walikelas kalian." ucap guru tersebut ramah.
Tok.. tok..
suara pintu terdengar tak lama bu Rina memperkenalkan diri. Seorang siswa masuk
sambil tersenyum. Semua anak cewek dikelas tersenyum senang
melihatnya. "Maaf bu saya terlambat." ujar cowok itu sopan. Aku
terdiam sejenak melihatnya.
"Lain
kali jangan sampai telat lagi ya. Kamu bisa duduk dibangku kosong disana."
ujar bu Rina menunjuk bangku disebelahku yang kosong.
Cowok itu
berjalan dan duduk disebelahku. "Lama gak ketemu mecin." ujarnya
tersenyum.
"Iya."
ujarku memaksa tersenyum. Seperti itu pertemuan pertama kami. Tak ada sepatah
kata pun yang keluar kembali. Setelah hampir 2 tahun itulah pertama kalinya
kami saling menyapa.
Hari ini kami
belum mulai belajar. Bu Rina hanya berkenalan dan membagi pengurus kelas.
Setelah pelajaran matematika masuk guru bahasa indonesia. Sama seperti
sebelumnya beliau hanya memperkenalkan diri saja. Bel tanda istirahat pun
berbunyi.
"Akhirnya."
ujar Radit cowok yang duduk disebelahku.
"Dit, lo
kemana aja bisa telat gitu." ujar Dani menghampirinya. Ia hanya
nyengir.
"Gue
kesiangan abis begadang main COC." akunya jujur. "kantin yuk
laper." ujarnya lagi mengajak Dani ke kantin.
Aku beranjak
dari tempat dudukku. Perutku sudah mulai lapar. Aku berjalan menuju kantin.
Suasana kantin saat istirahat sangat ramai. Aku berjalan menuju oulet yang
menjual mie ayam. "Mang mie ayam satu." ujarku memesan makanan.
"Masih
suka mie ayam ternyata." ujar seseorang dibelakangku. "Mang mie ayam
satu." ujarnya lagi.
"Lo."
ujarku melihat Radit berdiri disana. "Tumben ngajak ngobrol." ujarku
asal.
"Ya kan
kita temen sebangku sekarang." ujarnya asal.
Tak lama mie
ayam yang kami pesan sudah siap. Radit mengambil 2 mangkok mie ayam. Aku
menatapnya dengan bingung. "Jangan lupa bayarin gue juga." ujarnya
nyengir lalu kabur membawa mangkok tersebut.
"Dasar."
ujarku pelan. Aku membayar dua mangkok mie ayam dan mengikutinya. Aku melihat
Dani tengah duduk bersama seorang cewek. Cewek yang tak asing untukku. Dia
adalah Gina teman sekelas kami juga.
"Gue
beli minum dulu. Jangan makan mie ayam gue." ujar Radit memberi peringatan
kepada mereka.
"Pelit."
ujar Gina. Dani pun hanya tertawa. Aku duduk dengan cangung didepan mereka.
"Lo udah
kenal ya sebelumnya sama Radit Sa?" ujar Dani.
"Iya
temen SMP." ujarku singkat.
"Temen
apa temen?" ujar Gina menggodaku.
"Temen."
ujarku singkat kembali.
Tak lama
Radit pun kembali membawa 2 botol air mineral. "Nih." ujarnya
memberiku sebotol.
"Gue gak
dibeliin?" ujar Gina.
"Beli
sendiri sana." ujar Radit sambil meminum air tersebut.
"Pelit."
keluh Gina. "Eh tapi bener nih cuma temen?" ujar Gina kembali.
"Temen
apanya?" ujar Radit bingung.
"Lo sama
Sasa." ujar Dani.
"oh si
mecin, dia mantan gue di SMP." ujar Radit cuek. Aku tersedak mendengar
ucapannya. Dani dan Gina pun tak kalah kaget.
"Gak usah
pada kaget gitu kali, lo juga cin tinggal bilang mantan aja susah banget. Apa
lo masih ada rasa sama gue?" ujar Radit menggodaku.
"Ih PD
banget deh lo garem." ujarku sebal melihat tingkahnya. Radit tak pernah
berubah sedikit pun. Setelah sekian lama akhirnya aku dapat melihat Radit yang
dulu kembali.
"Oh jadi
ceritanya ada yang cintanya belum kelar." ujar Gina tersenyum.
"Berarti
bakal ada tanda-tanda balik lagi dong." ujar Dani iseng.
"Lo
berdua jangan mikir aneh-aneh deh." ujarku sebal.
"Hmm,
kalo mecin nembak gue mungkin gue bakal pikirin." ujar Radit dengan nada
sok serius.
"Jangan
ngarep ya." ujarku sebal. Radit pun tertawa.
"Gue
bertaruh lo berdua bakal balikan, kalo lo berdua gak balikan gue bakal traktir
kalian makan." ujar Gina yakin.
"Hmmm,
lumayan juga. Berarti lo traktir gue makan kan gue gak balikan sekarang."
ujar Radit asal.
"Ye itu
mah mau lo, tapi nanti kalo lo balikan gimana?" ujar Gina menggoda.
Aku
menatapnya dengan sebal. Mereka semua tertawa melihatku. Aku hanya memasang wajah
sebal. "Ya tinggal balikan, iya gak sayang?" ujar Radit dengan manja.
Dani dan Gina tertawa melihat tingkah Radit. Aku memandangnya dengan melotot.
"Gue bercanda ko." ujar Radit tersenyum.
"Oh ya
btw katanya bulan depan tim basket kita tanding ya lawan sekolah
Nusantara?" ujar Gina memulai pembicaraan kembali.
"Iya, lo
nonton ya." ujar Dani nyengir.
"Pasti
dong, lo juga nonton kan Sa?" ujar Gina.
"May
be." ujarku datar.
"Dia gak
bakal dateng." ujar Radit datar. Aku hanya diam. Radit yang kukenal setelah
kejadian itu masih ada. Radit masih marah kepadaku. Aku hanya diam.
"Kalo
gue yang ngajak pasti dia dateng." ujar Gina nyengir. Aku hanya tersenyum
dengan terpaksa. Gina, Radit, dan Dani mulai berbincang. Aku hanya diam dan
mendengarkan.
Bel masuk pun
berbunyi, kami berempat kembali ke kelas. Sepanjang jalan Gina banyak
mengajakku berbicara. Aku biasanya akan merasa terganggu tapi entah kenapa aku
tidak merasakan itu. Dari belakang Radit tersenyum melihatku.
Selama
pelajaran tak banyak yang kami bicarakan. Aku hanya fokus pada guru yang
mengajar didepan. Dan Radit sibuk membuat sketsa. Harus kuakui gambar Radit
sangat indah. Ia tampak serius menggambarnya.
Jam pelajaran
pun berakhir. "Selesai." ujarnya tersenyum senang melihat gambar yang
ia buat telah selesai. Sebuah pemandangan pantai yang indah.
"Dit,
latihan yuk." ujar Dani mengajak Radit latihan sepulang sekolah.
"Yuk."
ujar Radit merapihkan tasnya. Mereka berdua pun berlalu.
"Sa
pulang bareng yuk." ujar Gina.
"Emang
rumah lo searah sama gue?" ujarku bingung.
"Iya,
rumah lo di Perum kan?" ujar Gina nyengir.
"Iya, ko
lo tau?" ujarku heran.
"Gue
pernah liat lo disana. Rumah gue juga disana. Baru setahun si gue pindah jadi
pasti lo gak tau." ujarnya tersenyum.
"Ohh."
ujarku datar.
"Kapan-kapan
lo harus main kerumah gue." ujar Gina dengan senang.
"Iya."
ujarku singkat.
"Oh iya,
gue penasaran lo mantannya Radit kalian berapa lama jadian?" ujarnya mulai
penasaran.
"Hmm,
hampir 2 tahun." ujarku singkat.
"Hah?
terus ko putus?" ujar Gina heran.
"Kalo
gak berarti gue masih pacaran sama dia." ujarku asal.
"Iya si
bener." ujar Gina nyengir. "Btw kenapa si Radit manggil lo mecin? Eh
tapi lo manggil dia garem?" ujar Gina bingung.
"Karena
nama gue Sasa. Hmm, lagian dia manggil gue mecin duluan." ujarku asal.
"Rumah lo blok apa?" ujarku ketika kami sampai didepan gerbang
komplek.
"Rumah
gue di Blok A." ujar Gina.
"Oh,
kalo gitu gue duluan ya." ujarku sebelum Gina bertanya yang lain.
"Eh lo
ko buru-buru. Gak mau main dulu?" ujar Gina.
"Next
time ya." ujarku tersenyum lalu secepatnya pergi.
"Hmm,
jadi penasaran." ujar Gina melihatku pergi buru-buru. Gina memperhatikan
tingkahku dan ia tersenyum.
***
Keesokan
paginya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Aku melewati lorong sekolah. Dari
belakang seorang memanggilku. "Sasaaa." ujar seseorang memanggilku.
Aku menoleh dan Gina menghampiriku. Ia berjalan bersama Radit.
"Lo baru
sampe?" ujar Gina tersenyum.
"Iya."
ujarku singkat.
"Eh btw
di bioskop ada film baru loh nonton yuk." ujar Gina.
"Film?"
ujarku bingung.
"Iya, lo
suka nonton kan? nanti kita ajak Radit sama Dani." ujar Gina nyengir. Aku
hanya diam.
"Nanti
pulang sekolah ya. Lo jangan langsung balik." ujar Gina. "Dani."
ujarnya lagi memanggil Dani yang baru datang.
"Lo
banyak berubah ya." ujar Radit mengacak-acak rambutku dan berjalan
mendahuluiku. Deg. Tiba-tiba aku merasa seperti ada getaran listrik ditubuhku.
Entah kenapa getaran yang sudah lama tidak aku rasakan. Getaran yang
bertahun-tahun aku rasakan bersama Radit. Aku buru-buru menghilangkan rasa aneh
itu.
***
Bel pulang
sekolah berbunyi. Kami berempat bersiap untuk pergi. "Gue sama Dani lo
sama Radit ya." ujar Gina nyengir.
"Awas ya
besok nebeng lagi." ujar Radit menggoda Gina.
"Eh
jangan dong, lo kan penyelamat gue kalo telat." ujar Gina nyengir.
"Dasar."
ujar Radit tertawa sambil mengacak-acak rambut Gina. Sejenak aku terdiam
melihat tingkah mereka. Selama ini aku tak pernah melihat langsung Radit dengan
cewek lain walaupun aku sempat mendengar kabar bahwa ia sempat jadian dengan
beberapa cewek. Tapi aku tak pernah terganggu dan sekarang melihatnya secara
langsung membuatku terusik.
"Sa yuk
jalan." ujar Gina mengajakku. Aku mengikutinya. Aku duduk diboncengan
Radit. Diam menghampiri kami berdua.
"Jangan
diem mulu ntar orang-orang nyangka gue nyulik lo lagi." ujar Radit asal.
"Ye masa
udah gede diculik." ujarku cuek.
"Emang
lo udah gede?" ujar Radit menatapku dengan serius. Aku pun hanya menunduk
tak berani menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku dari dia. Radit tertawa.
"Lo
emang udah gede tapi lo masih kaya anak kecil." ujar Radit tersenyum dan
pergi menghampiri Dani dan Gina. Aku menghampirinya dari belakang. Selama
perjalanan tak banyak yang kuucapkan. Aku hanya mengikuti mereka. Entah kenapa
aku menikmatinya. Apa karena selama ini aku selalu sendiri? Apa aku mulai
merasa kesepian?
"oh si
mecin, dia mantan gue di SMP." ujar Radit cuek. Aku tersedak mendengar
ucapannya. Dani dan Gina pun tak kalah kaget.
"Gak
usah pada kaget gitu kali, lo juga cin tinggal bilang mantan aja susah banget.
Apa lo masih ada rasa sama gue?" ujar Radit menggodaku.
"Ih PD
banget deh lo garem." ujarku sebal melihat tingkahnya. Radit tak pernah
berubah sedikit pun. Setelah sekian lama akhirnya aku dapat melihat Radit yang
dulu kembali.
"Oh jadi
ceritanya ada yang cintanya belum kelar." ujar Gina tersenyum.
"Berarti
bakal ada tanda-tanda balik lagi dong." ujar Dani iseng.
"Lo
berdua jangan mikir aneh-aneh deh." ujarku sebal.
"Hmm,
kalo mecin nembak gue mungkin gue bakal pikirin." ujar Radit dengan nada
sok serius.
"Jangan
ngarep ya." ujarku sebal. Radit pun tertawa.
"Gue
bertaruh lo berdua bakal balikan, kalo lo berdua gak balikan gue bakal traktir
kalian makan." ujar Gina yakin.
"Hmmm,
lumayan juga. Berarti lo traktir gue makan kan gue gak balikan sekarang."
ujar Radit asal.
"Ye itu
mah mau lo, tapi nanti kalo lo balikan gimana?" ujar Gina menggoda.
Aku
menatapnya dengan sebal. Mereka semua tertawa melihatku. Aku hanya memasang
wajah sebal. "Ya tinggal balikan, iya gak sayang?" ujar Radit dengan
manja. Dani dan Gina tertawa melihat tingkah Radit. Aku memandangnya dengan
melotot. "Gue bercanda ko." ujar Radit tersenyum.
"Oh ya
btw katanya bulan depan tim basket kita tanding ya lawan sekolah
Nusantara?" ujar Gina memulai pembicaraan kembali.
"Iya, lo
nonton ya." ujar Dani nyengir.
"Pasti
dong, lo juga nonton kan Sa?" ujar Gina.
"May
be." ujarku datar.
"Dia gak
bakal dateng." ujar Radit datar. Aku hanya diam. Radit yang kukenal
setelah kejadian itu masih ada. Radit masih marah kepadaku. Aku hanya diam.
"Kalo
gue yang ngajak pasti dia dateng." ujar Gina nyengir. Aku hanya tersenyum
dengan terpaksa. Gina, Radit, dan Dani mulai berbincang. Aku hanya diam dan
mendengarkan.
Bel masuk pun
berbunyi, kami berempat kembali ke kelas. Sepanjang jalan Gina banyak
mengajakku berbicara. Aku biasanya akan merasa terganggu tapi entah kenapa aku
tidak merasakan itu. Dari belakang Radit tersenyum melihatku.
Selama
pelajaran tak banyak yang kami bicarakan. Aku hanya fokus pada guru yang
mengajar didepan. Dan Radit sibuk membuat sketsa. Harus kuakui gambar Radit
sangat indah. Ia tampak serius menggambarnya.
Jam pelajaran
pun berakhir. "Selesai." ujarnya tersenyum senang melihat gambar yang
ia buat telah selesai. Sebuah pemandangan pantai yang indah.
"Dit,
latihan yuk." ujar Dani mengajak Radit latihan sepulang sekolah.
"Yuk."
ujar Radit merapihkan tasnya. Mereka berdua pun berlalu.
"Sa
pulang bareng yuk." ujar Gina.
"Emang
rumah lo searah sama gue?" ujarku bingung.
"Iya,
rumah lo di Perum kan?" ujar Gina nyengir.
"Iya, ko
lo tau?" ujarku heran.
"Gue
pernah liat lo disana. Rumah gue juga disana. Baru setahun si gue pindah jadi
pasti lo gak tau." ujarnya tersenyum.
"Ohh."
ujarku datar.
"Kapan-kapan
lo harus main kerumah gue." ujar Gina dengan senang.
"Iya."
ujarku singkat.
"Oh iya,
gue penasaran lo mantannya Radit kalian berapa lama jadian?" ujarnya mulai
penasaran.
"Hmm,
hampir 2 tahun." ujarku singkat.
"Hah?
terus ko putus?" ujar Gina heran.
"Kalo
gak berarti gue masih pacaran sama dia." ujarku asal.
"Iya si
bener." ujar Gina nyengir. "Btw kenapa si Radit manggil lo mecin? Eh
tapi lo manggil dia garem?" ujar Gina bingung.
"Karena
nama gue Sasa. Hmm, lagian dia manggil gue mecin duluan." ujarku
asal. "Rumah lo blok apa?" ujarku ketika kami sampai didepan
gerbang komplek.
"Rumah
gue di Blok A." ujar Gina.
"Oh,
kalo gitu gue duluan ya." ujarku sebelum Gina bertanya yang lain.
"Eh lo
ko buru-buru. Gak mau main dulu?" ujar Gina.
"Next
time ya." ujarku tersenyum lalu secepatnya pergi.
"Hmm,
jadi penasaran." ujar Gina melihatku pergi buru-buru. Gina memperhatikan
tingkahku dan ia tersenyum.
***
Keesokan
paginya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Aku melewati lorong sekolah. Dari
belakang seorang memanggilku. "Sasaaa." ujar seseorang memanggilku.
Aku menoleh dan Gina menghampiriku. Ia berjalan bersama Radit.
"Lo baru
sampe?" ujar Gina tersenyum.
"Iya."
ujarku singkat.
"Eh btw
di bioskop ada film baru loh nonton yuk." ujar Gina.
"Film?"
ujarku bingung.
"Iya, lo
suka nonton kan? nanti kita ajak Radit sama Dani." ujar Gina nyengir. Aku
hanya diam.
"Nanti
pulang sekolah ya. Lo jangan langsung balik." ujar Gina. "Dani."
ujarnya lagi memanggil Dani yang baru datang.
"Lo
banyak berubah ya." ujar Radit mengacak-acak rambutku dan berjalan
mendahuluiku. Deg. Tiba-tiba aku merasa seperti ada getaran listrik ditubuhku.
Entah kenapa getaran yang sudah lama tidak aku rasakan. Getaran yang
bertahun-tahun aku rasakan bersama Radit. Aku buru-buru menghilangkan rasa aneh
itu.
***
Bel pulang
sekolah berbunyi. Kami berempat bersiap untuk pergi. "Gue sama Dani lo
sama Radit ya." ujar Gina nyengir.
"Awas ya
besok nebeng lagi." ujar Radit menggoda Gina.
"Eh
jangan dong, lo kan penyelamat gue kalo telat." ujar Gina nyengir.
"Dasar."
ujar Radit tertawa sambil mengacak-acak rambut Gina. Sejenak aku terdiam
melihat tingkah mereka. Selama ini aku tak pernah melihat langsung Radit dengan
cewek lain walaupun aku sempat mendengar kabar bahwa ia sempat jadian dengan
beberapa cewek. Tapi aku tak pernah terganggu dan sekarang melihatnya secara
langsung membuatku terusik.
"Sa yuk
jalan." ujar Gina mengajakku. Aku mengikutinya. Aku duduk diboncengan
Radit. Diam menghampiri kami berdua.
"Jangan
diem mulu ntar orang-orang nyangka gue nyulik lo lagi." ujar Radit asal.
"Ye masa
udah gede diculik." ujarku cuek.
"Emang
lo udah gede?" ujar Radit menatapku dengan serius. Aku pun hanya menunduk
tak berani menatapnya. Aku mengalihkan pandanganku dari dia. Radit tertawa.
"Lo
emang udah gede tapi lo masih kaya anak kecil." ujar Radit tersenyum dan
pergi menghampiri Dani dan Gina. Aku menghampirinya dari belakang. Selama
perjalanan tak banyak yang kuucapkan. Aku hanya mengikuti mereka. Entah kenapa
aku menikmatinya. Apa karena selama ini aku selalu sendiri? Apa aku mulai
merasa kesepian?
Sudah hampir
sebulan aku bersama mereka. Entah kami sudah bisa dibilang teman atau hanya
sekedar orang yang sering bersama. Masih tak banyak yang kubicarakan dengan
mereka. Kadang mereka membuatku terganggu tapi kadang saat aku sendiri aku
merindukan canda mereka. Apa mungkin aku sudah mulai terbiasa untuk berteman
kembali? Pertanyaan itu masih belum aku temukan jawabannya.
"Dit,
Sasa itu orangnya kaya gimana?" ujar Gina siang itu saat mereka sedang
berada dirumah Gina.
"Hmmm,
dia pendiem tapi kalo udah kenal nyebelin. Dia selalu menutup dirinya buat
orang lain. Dia pinter tapi juga polos. Egonya tinggi dia nganggep semua orang
saingan." ujar Radit mengingat sifat Sasa.
"Hmm, lo
kayanya tau banget. Oh iya tumben lo bisa pacaran lama. Gue denger hampir dua
tahun." ujar Gina.
"Ya gue
tau Sasa dari awal SMP cuma kita baru jadian pas kelas 2 dan kita sekelas pas
kelas 3. Ya kalo gue nyaman kenapa gak? Eh tapi ko lo tau gue hampir 2
tahun?" ujar Radit bingung.
"Iya,
gue nanya sama Sasa waktu itu." ujar Gina.
"Tumben
dia jawab." ujar Radit berpikir. "Tapi kalo yang nanya kaya lo bisa
jadi si." ujar Radit lagi sambil melihat kearah Gina yang orangnya sangat
kepo.
"Gue kan
orangnya baik hati dan tidak sombong. Pasti Sasa mau temenan sama gue."
ujar Gina. Radit hanya tertawa melihat tingkah Gina yang kadang diluar
pikirannya.
"Gin,
ada temen kamu nyariin." ujar mamah memanggilku dari bawah.
"Siapa
ya? gue ke bawah dulu." ujar Gina turun ke bawah. Gina turun menghampiri
mamahnya yang berada di bawah. Ia berjalan menuju ruang tamu.
"Sasa?"
ujar Gina sedikit terkejut. Ia tersenyum senang menghampiri Sasa.
"Siapa
Gin?" ujar Radit yang baru turun. Radit sedikit terkejut melihat Sasa
datang. Aku terdiam melihat mereka.
"Gue mau
balikin ini." ujarku mengembalikan buku yang aku pinjam.
"Ohh,
udah lo baca? seru kan?" ujar Gina senang.
"Iya,
Gue balik dulu ya kalo gitu." ujarku buru-buru pergi.
"Ko
buru-buru? duduk dulu yuk." ujar Gina tersenyum.
"Gue
kayanya langsung pulang deh soalnya tadi gue bilangnya cuma mau balikin buku
doang." ujarku pamit lalu bergegas pergi. Aku berjalan dengan salah
tingkah meninggalkan rumah Gina. Radit terdiam memperhatikanku pergi, dia hanya
tersenyum. "Dasar." ujarnya pelan.
"Kamu ko
udah pulang?" ujar mamah yang sedang beristirahat sepulang mengajar. Mamah
bingung melihatku pulang cepat.
"Iya,
Ginanya lagi ada tamu." ujarku singkat lalu masuk kamar. Aku membaringkan
tubuhku diranjang. Entah apa yang kurasakan saat ini. Aku tak mengerti dengan
diriku. Apa aku masih suka dengan Radit? Apa aku cemburu? Aku membaringkan
tubuhku diranjang dan menutup wajahku. Banyak yang aku pikirkan.
***
Keesokan
harinya tak banyak yang terjadi. Aku hanya diam. "Sa kantin yuk."
ujar Gina mengajakku.
"Gue mau
dikelas aja." ujarku singkat.
"Lo sakit?
apa mau gue anterin ke UKS?" ujar Gina khawatir.
"Gak ko,
gue cuma mau sendiri aja." ujarku.
"Yaudah,
gue ke kantin ya, kalo mau nitip sms." ujar Gina tersenyum lalu pergi
meninggalkanku sendiri. Entah kenapa aku jadi marah dengan Gina. Apa karena Radit?
Aku
membaringkan kepalaku dimeja. Aku melihat ke luar jendela. Tiba-tiba aku merasa
seseorang disebelahku. Kuangkat kepalaku dan kulihat Radit duduk disana. Ia
duduk dan hanya diam.
Aku kembali
menidurkan kepalaku di meja. Diam menyelimuti kami berdua. Tak lama aku merasa
Radit beranjak pergi kembali. Aku merubah posisi kembali terduduk diam.
"Gue kenapa si?" ujarku pelan.
Bel masuk pun
berbunyi. Kelas kembali ramai. Aku melihat Gina dan Radit masuk bersama. Mereka
masih tampak asik berbincang. Kuhela nafasku sejenak dan mulai mengalihkan
pandanganku. Pikiranku hari ini sangat kacau.
***
Sore itu
sangat panas. Waktu padahal menunjukkan pukul 3 sore. Aku membaringkan tubuhku
di ranjang. Hari ini aku malas untuk beranjak kemana-mana. Bel rumahku berbunyi.
Ka Tyo berjalan membuka pintu.
"Cari
siapa ya?" ujarnya ramah.
"Sasanya
ada?" ujar Gina salting.
"Oh
temennya Sasa. Masuk." ujar ka Tyo tersenyum. Ia mengantar Gina kekamarku.
Gina masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari ka Tyo.
"De, ada
temen kamu nih." ujar ka Tyo masuk ke kamarku. Aku memandangnya bingung.
"Ka
jangan becanda deh, sejak kapan temen aku ada yang main..." belum sempat
aku melanjutkan ucapanku Gina sudah muncul dari balik pintu. Ia tersenyum
melihatku.
"Kamu
mulai amnesia ya? bukannya dulu sering. Apalagi siapa tuh namanya kaka lupa. Ko
dia gak pernah kesini lagi? udah putus? padahal kaka sering liat dia disekitar
komplek." ujar ka Tyo masih berpikir. Aku beranjak dengan cepat. Kuusir ka
Tyo dari kamarku.
"Iya ka,
ngomongin dianya nanti aja ya. Nanti kalo kaka kangen aku salamin. okay."
ujarku menyeret ka Tyo keluar dan menutup pintu kamar. Hampir saja. Gina hanya
tersenyum melihat tingkahku.
"Sorry
ya dia suka rese." ujarku menghampiri Gina.
"Iya,
kaka lo lucu." ujar Gina nyengir.
"Lucu?"
ujarku bingung. Gina mungkin sudah kena peletnya ka Tyo. Hampir semua cewek
yang melihat ka Tyo pasti jatuh hati. Aku sendiri merasa heran. Memang kalo
diperhatikan ka Tyo manis. Dia selalu baik kepada semua cewek, but sifat
isengnya gak ketulungan.
"Iya."
ujar Gina nyengir.
"Oh ya
btw kenapa Gin?" ujarku penasaran melihat kedatangan Gina yang tiba-tiba.
"Gpp mau
main aja." ujar Gina tersenyum.
"Radit
gak ke rumah mang?" ujarku pelan.
"Gak,
dia ada latihan basket." ujar Gina. "Lagian ngapain Radit
sering-sering ke rumah gue kalo gak disuruh nyokapnya nganterin sesuatu."
ujar Gina lagi.
"Nyokapnya?"
ujarku tak mengerti.
"Oh iya,
gue belum cerita ya, Radit sepupu gue." ujar Gina tersenyum. "Kadang
tante Maryam suka nitipin makanan kalo si Radit mau kerumah." ujar Gina
lagi membaringkan tubuhnya diranjang.
"Lo
deket banget ya sama Radit?" ujarku ikut berbaring disampingnya.
"Lumayan,
ya namanya juga saudara. Apalagi semenjak gue pindah kesini. Radit sering
ngajak gue jalan-jalan. Ya gak sering juga si. Kadang kalo lagi jalan sama
pacarnya gue suka gak diajak juga. Eh gue ngomong kepanjangan ya?" ujar
Gina menyadari ucapannya.
"Gpp
ko." ujarku tersenyum.
"Gue
sempet kaget si Radit bisa pacaran lama. Biasanya kan sebentar." ujar
Gina. "Btw lo kenapa putus si?" ujar Gina menatap kearahku.
"Tanya
Radit aja." ujarku singkat. "Pasti dia jawab ko." ujarku lagi.
"Radit?
jawab? lo kaya gak tau dia aja. Dia kan jarang terbuka orangnya." ujar
Gina sebal.
"Hmm,
kadang gak semuanya harus diceritain kan?" ujarku tersenyum.
"Wahh,
lo kayanya kenal banget ya sama dia. Gue cuma penasaran aja si lo berdua kan
udah pacaran lama pasti udah sama-sama ngerti." ujar Gina.
"Gak
selalu si, mungkin karena ego gue yang tinggi, jadi kita sering berantem. Dan
lama-lama gue nganggep dia saingan daripada pacar." ujarku tersenyum.
"Udah
gitu doang?" ujar Gina heran.
"Gak
juga si, waktu itu kita lagi sama-sama cape, setelah ujian kita sempet
berantem, salah gue si, dan saat hasil ujian keluar ternyata nilai dia lebih
gede dari gue. Saat itu gue marah terus kita berantem." ujarku mengingat
kejadian dulu.
"Terus
lo mutusin dia?" ujar Gina pelan.
"Iya,
mulai sejak itu Radit gak pernah ngajak gue ngobrol dan gue juga cuek
aja." ujarku.
"Lo gak
nyoba minta maaf?" ujar Gina.
"Buat
apa? lagian Raditnya juga yang kaya anak kecil gitu aja marah." ujarku
sebal.
"Aduh lo
berdua tuh ya kelakuan sama aja." ujar Gina bangkit dari tidurnya.
"Awalnya gue kira Radit yang lebay, ternyata lo juga sama aja." ujar
Gina asal.
"Maksudnya?"
ujarku bingung.
"Lo
masih suka kan sama dia." ujar Gina.
"Gak."
bantahku dengan cepat.
"Kalo
gak, kenapa kemaren lo pulang cepet? terus kenapa lo ngehindarin gue
disekolah?" ujar Gina serius. Aku hanya diam. Gina tersenyum melihatku.
"Kalo lo
emang suka sama Radit lo harusnya nurunin ego lo. Sekarang gini lo udah 2 tahun
dan putus karna nilai dia lebih gede. Bukannya bagus ya? berarti cwo lo pinter.
Gak masalah ko kalo dia lebih pinter dari lo. Apa lo mau punya cwo yang lebih
bodoh dari lo? Gak kan?" ujar Gina.
"Ok yang
kemaren emang gue salah. Tapi bukan berarti gue masih suka sama Radit
kan?" ujarku sebal. Gina tertawa melihatku.
"Iya
terserah lo si, but lo tetep wajib minta maaf ke dia. Apa salahnya si minta
maaf atas kesalahan lo? Toh gue rasa Radit juga gak bakal marah lagi kalo lo
minta maaf." ujar Gina tersenyum. Aku menghela nafas sejenak berpikir
sebentar. Semuanya memang salahku seperti yang diucapkan Gina.
"Yaudah
gue balik ya. Gue cuma mau mastiin doang lo cemburu sama gue apa gak. Eh
ternyata bener." ujar Gina terkikih. Aku melongo melihat tingkat Gina yang
berubah. Sebelum aku sempat angkat bicara Gina sudah mulai mengoceh.
"Eits
jangan marah. Gue sama Radit sepupu okay. Jadi kalo kita deket ya sebagai kaka
adik aja. Dan lo harus tetep minta maaf. Gak ada tapi-tapian. Oh iya, btw ka
Tyo udah punya pacar belum?" ujar Gina nyengir.
"Gina."
ujarku sebal.
"Just
kidding." ujarnya tertawa. Aku hanya tertawa sebal melihatnya. Kami berdua
berjalan menuruni tangga disana ka Tyo tengah menonton TV.
"Udah
mau pulang?" ujar ka Tyo tersenyum.
"Iya
ka." ujar Gina malu-malu.
"Ka kata
Gina kaka udah punya ..." belum sempat aku melanjutkan ucapanku Gina sudah
menutup mulutku. Ia hanya nyengir.
"Balik
dulu ya ka." ujarnya buru-buru menarikku keluar. Aku melepaskan tangannya
saat kami berada diluar.
"Lo
iseng banget si." ujar Gina sebal. Aku tertawa melihat tingkah Gina.
"Makanya
jangan ngeledekkin gue mulu sama Radit." ujarku asal.
"Wuu...
Nanti gue bilangin Radit. Udah ah gue mau pulang dulu. Takut dicariin sama
mamih tercinta." ujar Gina nyengir. Aku tertawa melihat tingkahnya. Gina
menghidupkan motornya dan bersiap untuk pergi.
"Oh iya,
salam ya buat ka Tyo." ujarnya dengan genit sambil mengedipkan sebelah
matanya.
"Dasar."
ujarku tertawa. "Hati-hati dijalan." ujarku tersenyum.
"Dahhh."
ujar Gina lalu pergi meninggalkan rumahku. Aku kembali masuk kerumah dan ka Tyo
masih sibuk dengan TV nya.
"Nonton
apa si ka?" ujarku heran.
"FTV."
ujarnya singkat.
"Ih
melow banget si. Coba kalo cewek-cewek tau yang ada langsung ilfeel sama
kaka." ujarku asal.
"Ye
dasar. Oh iya kaka inget si Radit. Waktu itu kaka sempet beberapa kali ketemu
sama dia. Sempet nyapa sebentar si." ujar ka Tyo.
"Ohh."
ujarku singkat.
"Ciye
yang udah putus sekarang cuma ohh doang, biasanya nanyain panjang lebar."
ujar ka Tyo menggodaku.
"Stop.
Aku mau ke kamar aja daripada dengerin ka Tyo ntar tambah jadi melow."
ujarku asal lalu pergi kekamar. Ka Tyo hanya tertawa melihat tingkahku.
***
Hari ini
pertandingan basket melawan SMA Nusantara akan diadakan. Radit dan Dani sudah
bersiap dari pagi bersama tim basket yang lain. Aku masih enggan duduk
dikursiku. Bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Kulihat Gina sudah
buru-buru. "Sa, ayo buruan." ujar Gina menghampiriku.
"Gue gak
ikut deh." ujarku masih dengan malas.
"Udah
buruan jangan banyak alasan." ujar Gina menarik tanganku. Dengan malas
kuikuti dia. Kami berjalan menuju lapangan basket.
Hari ini
hanya pertandingan persahabatan. Anak-anak sudah mulai memenuhi pinggir
lapangan untuk menonton. Aku dan Gina pun turut duduk bersama dengan mereka.
Kulihat Radit dan Dani tengah melakukan pemanasan. "Radit Dani." ujar
Gina mulai berteriak. Dani hanya nyengir melihat kami. Dan Radit sempat terdiam
sebentar dan tersenyum. Entah tersenyum kepada Gina atau kepadaku.
Pertandingan
pun dimulai. Aku mulai memperhatikan pertandingan. Aku tidak pernah mau
menonton pertandingan Radit. Mungkin hal itu yang membuatnya lelah kepadaku.
Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Radit terlihat keren mendrible bola.
Banyak anak cewek yang berseru menyemangatinya. Aku sekilas memperhatikan
tingkah mereka.
"Si Quin
ngapain dia kesini?" ujar Gina sebal melihat kearah seorang cewek yang
cantik.
"Lo
cemburu kalah cantik sama dia?" ujarku asal.
"Ih gak
ya, itu mantannya Radit. Dan lo tau? dia selingkuh sama temennya Radit sendiri
gila kan?" ujar Gina sedikit berbisik kepadaku. Aku diam memperhatikan
cewek itu. Aku pernah tanpa sengaja melihat Radit bersama cewek itu.
"Pokoknya
kalo dia deketin Radit lagi awas." ujar Gina sebal. Aku hanya tertawa
melihat tingkahnya.
Pertandingan
berlangsung sangat seru. Semua pemain bermain dengan serius. Ditengah
pertandingan aku melihat Radit terdorong oleh tim lawan. Ia terjatuh sebentar
kemudian bangun kembali. Gina melihatnya dengan kesal. Aku terdiam
memperhatikannya. Pertandingan hampir selesai.
"Gue ke
toilet dulu ya. Lo mau nitip minum gak?" ujarku bangkit dari tempat duduk.
"Boleh.
Jangan lama-lama ya sebentar lagi udahan mainnya." ujar Gina.
Aku berjalan
menuju toilet. Setelah selesai aku berjalan menuju kantin. Sempat aku melewati
koperasi sekolah. Aku berhenti sejenak dan masuk membeli handsaplas. "Buat
apa gue beli ginian." ujarku pelan menuju kantin sekolah. Aku memasukkan
handsaplas ke sakuku. Dan membeli dua minuman botol dingin. Saat aku kembali
pertandingan sudah selesai. Semua pemain sedang beristirahat. Gina duduk
disebelah Radit. Aku menghampirinya perlahan.
"Lo tau
gak tadi ada si Quin?" ujar Gina masih sebal.
"Ya
biarin kan ini sekolahan dia. Masa lo mau larang dia nonton si." ujar
Radit tertawa.
"Awas
aja tuh anak macem-macem." ujar Gina mengancam.
"Gin."
ujarku menghampirinya.
"Lo
harusnya nonton endingnya Sa. Untung sekolah kita menang beda tipis banget."
ujar Gina semangat.
"Nih."
ujarku memberikan sebotol minuman.
"Thanks
ya, oh iya btw gue kesana dulu ya." ujar Gina mengedipkan matanya
kepadaku. Diam menyelimuti aku dan Radit ketika Gina pergi.
"Tumben
nonton." ujar Radit pelan masih dengan keringat bercucuran.
"Hmm,
ditarik Gina." ujarku pasrah. Diam menyelimuti kami kembali. Aku membuka
botol air mineralku dan menarik lengan Radit.
"Lo mau
ngapain?" ujarnya bingung.
"Udah
diem." ujarku sebal. Aku membasuh lukanya dengan air dan mengelapnya
dengan tisu. Lalu kuambil handsaplas yang telah kubeli. "Jangan GR."
ujarku pelan.
"I
know." ujarnya tersenyum melihat lukanya sudah diobati.
"Maaf."
ujarku pelan.
"Buat?"
ujar Radit tak mengerti.
"Masalah
kemarin. Hmm, gara-gara nilai lo lebih gede gue malah marah." ujarku tanpa
menoleh kearahnya.
"Iya."
ujar Radit singkat.
"Lo
masih marah sama gue?" ujarku.
"Gak ko,
lagian juga itu udah lama. Dan kita masih sama-sama belum dewasa." ujar
Radit. "But, kenapa saat Gina ngajak lo nonton lo mau dan saat gue
mohon-mohon lo gak pernah mau?" ujar Radit sebal.
"Abisnya
lo kalo abis main basket pasti luka gini." ujarku sebal. Radit tertawa
melihatku. Aku melihat kearahnya dengan sebal.
"Ya
namanya juga cowok." ujar Radit tersenyum. "But thanks udah nonton
dan ini." ujar Radit menunjukkan lukanya yang sudah diobati. Aku
mengangguk dan tersenyum.
"Dit
ganti baju yuk." ujar Dani menghampiri kami.
"Gue
ganti baju dulu ya." ujar Radit tersenyum. Lalu berjalan menuju toilet
bersama Dani.
"So?
udah baikan?" ujar Gina menggodaku.
"Siapa
yang berantem emang?" ujarku asal.
"Nah
sekarang berarti lo harus traktir gue." ujar Gina senang.
"Itu."
ujarku menunjuk minum yang ia pegang.
"Curang."
ujarnya sebal lalu tertawa.
Tak lama aku
melihat Dani dan Radit berjalan menghampiri kami. "Gue balik duluan
ya." ujar Dani pamit duluan dan berlalu. Tinggal kami bertiga disana.
"Gina."
ujar seseorang memanggilnya.
"Hai,
udah selesai ganti bajunya." ujar Gina senang.
"Yuk
balik." ujar cowok itu.
"Oh iya
btw kenalin ini Sasa dan ini Radit eh tapi udah kenal kan ya sama Radit. Ini
Yoga pacar gue." ujar Gina nyengir menggandeng cowok itu. Cowok itu pun
tersenyum. Aku sempat terdiam tak mengerti. Dari seragamnya Yoga anak SMA
Nusantara. Jadi tadi Gina mau nonton pacarnya?
"Oh ya,
gue balik duluan ya. Lo minta anterin Radit aja dia kosong ko." ujar Gina
asal. Tak lama ia pun berlalu dengan Yoga.
"Yuk
balik." ujar Radit bangkit dari tempat duduknya.
"Itu
pacar Gina?" ujarku heran. Radit hanya menganggkat bahunya.
"Gue
dikerjain." ujarku sebal. Radit tertawa.
"Lagian
lo mau aja dikibulin Gina. Hmm, pasti lo udah ceritain semua ke Gina."
ujar Radit asal.
"Gak."
ujarku langsung kabur berjalan mendahuluinya. Radit tersenyum kemudian
mengejarku. Hari itu kami pulang bersama seperti masa SMP. Entah sudah berapa
lama kami tidak pulang bersama seperti ini.
***
Sudah sebulan
sejak kejadian itu berlalu. Kini banyak yang telah berubah dihidupku. Aku tidak
lagi menganggap semua orang saingan. Dan sekarang aku memiliki banyak teman.
Terkadang memang mereka agak menyebalkan but they are my friends, always beside
me no matter what i do. Kalo ditanya hubunganku dengan Radit gimana? ya you
know lah ini cerita yang pasti akan ketebak endingnya. But untuk saat ini kami
masih berteman. why? karena Radit belum menyatakan cintanya padaku. Ia masih
menungguku untuk menembaknya duluan dan aku tidak mau. Sudah sering beberapa
kode yang ia sampaikan namun aku hanya berpura-pura tidak mengerti.
Hari ini
adalah malam tahun baru. Aku, Radit, Gina, Yoga, Dani dan Karin merayakannya
bersama-sama. Kami pergi ke Villa milik keluarga Gina. Disana keluarga Gina
juga turut ikut serta. Karena Gina anak tunggal tentu saja keluarganya senang
dengan kehadiran kami. Kami pergi dengan menggunakan mobil Gina. Anak-anak
cowok bergantian membawanya. Sesampainya disana suasana dingin puncak menyambut
kami. Tenang, damai, dan dingin pastinya. Sesampainya disana kami masuk ke
kamar masing-masing ada 4 kamar yang tersedia disana. Dengan rumah yang terdiri
dari dua tingkat kami dapat melihat pemandangan puncak yang indah.
Setelah
beristirahat kami bersiap untuk melakukan barbeque alias bakar-bakar. Para anak
cwo dan papa Gina menyiapkan tempat untuk bakar-bakaran. Sedangkan kami sibuk
membantu mama Gina untuk menyiapkan bahan makanan. Setelah semua siap, kami
semua melaksanakan bakar-bakar. Yoga sibuk memainkan gitar dan kami bernyanyi
bersama. Aku menghampiri Radit yang tengah membakar jagung sendirian. Aku turut
duduk disebelahnya.
"Lo gak
ikut nyanyi?" ujarku melihat api yang membara.
"Tanggung
nih." ujarnya menunjuk jagung terakhir yang ia bakar. Aku mengambil sebuah
jagung dan ikut membakarnya.
"Jangan
deket-deket nanti yang ada gosong." ujar Radit masih memperhatikan
jagungnya.
"Iya gue
tau ko." ujarku asal. Radit tersenyum melihatku. Sejenak aku terdiam.
Tanganku masih memegang jagung yang ada di atas api.
"Cin."
ujar Radit lembut. Aku hanya diam melihatnya. "Jagung lo gosong."
ujar Radit tertawa. Aku tersadar dan mengangkat jagung tersebut. Warnanya sudah
berubah menjadi hitam.
"Yahhh,
padahal buat lo, buang aja deh." ujarku asal. Radit menarik tanganku dan
mengambil jagungnya.
"Eits
kalo udah niat gak boleh dibuang." ujarnya sambil tersenyum.
"Lo
jahat." ujarku sebal.
"Why?"
ujar Radit bingung.
"Lo
kenapa si baik banget sama gue? Hmm, apa lo lagi ngerjain gue?" ujarku
lagi sebal. Radit tertawa melihat tingkahku.
"Udah ah
gue mau ke anak-anak aja." ujarku sebal. Radit menarik tanganku sehingga
aku terduduk kembali.
"Hmmm,
kayanya kalo nunggu lo gak bakal ada kemajuan. Gue anggep ini sebagai pertanda
lo nembak gue. Gue sayang sama lo dari dulu dan lo tau itu. Kemaren gue sempet
pacaran sama beberapa cewek gue kira dengan begitu gue bisa move but i am
wrong. Sasa would do you to be my girlfriend?" ujar Radit dengan
tersenyum.
"Sok
romantis deh." ujarku tertawa.
"Ah lo
ngerusak suasana." ujar Radit ngambek.
"Dit."
ujarku lembut.
"Hmmm."
ujarnya singkat.
"You
know me. Maaf udah buat lo sakit dulu. But gue janji gak bakal ngulangin
lagi." ujarku tersenyum. Radit tersenyum. "Tapi kalo gue inget
ya." ujarku tertawa.
"Dasar."
ujar Radit tersenyum. Kami saling berpandangan. Semakin lama wajah Radit
mendekatiku. Aku pun menutup mata.
"Hei
kalian buruan sini udah mau tengah malem." suara Gina mengagetkan kami
berdua.
"Gina."
ujar Radit sebal. Aku hanya tertawa.
"Yuk
kesana. Kelamaan disini yang ada kita yang gosong." ujarku asal. Aku
beranjak bangun dan membantu Radit membawa beberapa jagung bakar.
"Yang
tadi belum selesai." bisiknya singkat ditelingaku. Lalu berjalan
mendahuluiku.
"Dasar."
ujarku pelan sambil tersenyum. Aku berjalan mengikutinya.
"Jagung
bakar udah siap." ujar Radit meletakkan jagung tersebut diatas meja.
"Dit ko
yang ini gosong? buang aja deh." ujar Gina asal.
"Eh
jangan ini punya gue spesial." ujar Radit mengambil jagung tersebut. Semua
orang terdiam mendengar ucapan Radit. "Ini dari mecin pas dia nembak
gue." ujarnya asal. Semua mata langsung tertuju kepadaku. Godaan mulai
keluar dari mulut mereka. Papa dan Mama Gina tertawa melihat tingkah kami.
Malam itu menjadi tahun baru yang menyenangkan.
***